Sampah Plastik, Mimpi Buruk Pengendalian Pencemaran Lingkungan

Dian Erfanita, S.Si

Mahasiswa Megister Ilmu Lingkungan

Universitas Maritim raja Ali Haji

Lebih kurang 60 (enampuluh) tahun plastik diproduksi secara masal di dunia. Bertahun-tahun itu pula manusia dimanjakan dengan berbagai kemudahan, kepraktisan serta murahnya harga kemasan yang terbuat dari bahan plastik. Mulai dari membeli air mineral, secangkir kopi, hingga membeli bubur, prata  dan mie lendir di pagi hari, pasti kita bertemu dengan kemasan plastik. Ditambah lagi alasan kepraktisan menyebabkan banyak masyarakat menggunakan jasa laundry untuk cuci gosok dan plastik pembungkus baju bersih juga menggunung di rumah. Sehingga Setiap hari sulit rasanya melepaskan diri dari plastic dan sampah plastik.

Sampah plastik juga telah menjadi salah satu sumber pencemaran laut di Indonesia. Seperti diketahui bahwa bahwa kondisi pencemaran laut di Indonesia sudah cukup memprihatinkan. Sebesar 75 persen berkategori Sangat Tercemar, 20 persen Tercemar Sedang, 5 persen Tercemar Ringan.

Melihat perkembangan masalah sampah plastik, pemerintah memang sudah harus mempercepat perbaikan sistem pengelolaannya. Mengingat sampah plastik sulit untuk diurai bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Plastik yang kita gunakan karena alasan kepraktisan berubah menjadi polutan yang membahayakan lingkungan. Seperti contoh plastik indomie yang  yang telah berusia 19 tahun dan masih utuh saat ditemukan di pesisir pantai Malang. Artinya perlu sejumlah peraturan pembatasan hingga pelarangan penggunaan kantong plastik disahkan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya  menaksir timbunan sampah di Indonesia tahun 2020 ini mencapai sebesar 67,8 juta Ton. Sebanyak 3,22 ton merupakan sampah plastik dan sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut tak terkelola dengan baik dan diduga dibuang ke laut serta mencemari lautan.

Sehingga Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.  Padahal jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun tingkat pencemaran plastik ke laut India hanya sekitar 0,09-0,24 juta ton/tahun atau menempati urutan ke 12. Artinya memang ada sistem pengelolaan sampah yang buruk di Indonesia.

Tidak berhenti sampai di situ, pencemaran plastik di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat. Dimana saat ini, industri minuman di Indonesia merupakan salah satu sektor yang pertumbuhannya paling pesat setelah industri pakaian jadi  yaitu 24,2%.

Bahaya sampah plastik

Sampah plastik selalu menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan baik pencemaran tanah maupun laut. Sifat sampah plastik tidak mudah terurai, proses pengolahannya menimbulkan toksit dan bersifat karsinogenik sehingga beberapa jenis plastik butuh waktu sampai ratusan tahun bila terurai secara alami.

Untuk pencemaran plastik di perairan, penelitian yang telah dilakukan oleh Universitas Maritime Raja Ali Haji yang dipelopori oleh Prof. Agung Dhamar Syakti dkk, guna melihat kontaminasi mikroplastik yang mengambang di perairan di sekitar pulau bintan, ditemukan bahwa  terdapat 0,45 serihan mikroplastik per meter perairan yang terdiri dari berbagai jenis polimer dalam bertuk yang juga ukuran beragam. Penelitian lain dari UC Davis dan Universitas Hasanuddin yang dilakukan di pasar Paotere Makassar menunjukkan bahwa  23% sampel ikan yang diambil memiliki kandungan plastik di perutnya.

Beberapa  foto viral tentang seekor kuda laut yang ekornya terlilit sampah cotton bud sehingga mengalami kesulitan bergerak,  anjing laut yang mati lemas karena lehernya terjerat plastik, atau penyu yang terlilit sampah plastik di sekujur tubuh hingga tak mampu berenang, merupaka fakta bahwa sampah plastik yang mencmari perairan merupakan isu Bersama  yang harus segera diselesaikan.

Pengelolaan sampah plastik

Plastik yang awalnya dibuat untuk memudahkan kehidupan manusia, kini sudah menjadi ancaman. Jumlah produksi dan konsumsi plastik yang meningkat, tidak dibarengi dengan proses daur ulang yang memadai. Ini menjadi tantangan utama bagi pengelolaan sampah di Indonesia. Karena Jika diolah dengan baik, menurut beberapa pengusaha daur ulang sampah, sampah plastik daur ulang dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 16.379.472 per bulan dari produksi 48 ton sampah plastik.

Bank Dunia dan pemerintah Indonesia sedang terus berusaha untuk meningkatkan pemahaman tentang sampah plastik, sehingga perlu mengembangkan beberapa kebijakan mengenai sampah. Dimulai dari langkah sederhana seperti program Reduce, Reuse, and Recycle, hingga yang lebih luas dan kompleks seperti pembatasan kantung plastik sekali pakai, peningkatan regulasi dan standar kemasan plastik bagi para produsen, mengedukasi perubahan perilaku dan inovasi teknologi.

Target Pengurangan dan Penanganan Sampah Nasional ini tertuang dalam Peraturan Presiden No.97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Pemerintah Indonesia telah Menyusun target penurangan 30% sampah dan penanganan sampah dan pegurangan pemakaian beberapa jenis plastik seperti kantung kresek, sedotan dan strefofom sebanyak 70 %. Angka yang cukup bombastis mengingat kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya saja masih sangat kurang, dan pembatasan pemakaian kantong kresek masih baru dilakukan pada gerai-gerai belanja tertentu.  

program Reduce, Reuse, and Recycle juga mengalami kendala dimana kualitas sampah pasca konsumsi yang ada di Indonesia umumnya rendah, karena kerap tercampur antara satu jenis sampah dengan yang lainnya sehingga pemulung mendapatkannya dalam keadaan kotor dan sulit diolah. Oleh sebab itu, menjadi penting untuk pemilahan sampah  di sumber utama guna meningkatkan kualitas sampah.

Sampah plastik yang tidak tercampur dengan sampah organik sudah meningkatkan nilai daur ulang. Plastik pascakonsumsi masih belum memenuhi standar industri akibat minimnya pemilahan sampah di sumbernya sehingga kebutuhan plastik daur ulang banyak diambil dari limbah plastik industri dan scrab plastik impor.

Dengan melakukan langkah kecil berupa membatasi penggunaan bahan plastik dan memilah sampah plastik, diharapkan kita bersumbangsih mengendalikan penggunaan plastik dan pencemarannya. Karena Penanggulangan sampah ini tidak bisa dilakukan setahun atau dua tahun. Mungkin pemerintah bisa membuat banyak TPS, tapi kalau tidak ada peran dan kesadaran masyarakat, maka proses penanggulangan sampah plastik ini akan menjadi mimpi buruk yang tidak kunjung usai. 

Leave a Comment

Your email address will not be published.