Dugong (Duyung) : Spesies Laut Langka yang Terancam Punah dan Peran Pemerintah Daerah dalam Menjaga Kelestariannya

Oleh : FRENGKY AZRIANTO, S.Pi
Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan
Universitas Maritim Raja Ali Haji-Kepri

Dugong (Duyung) atau nama ilmiahnya Dugong dugon merupakan salah satu mamalia laut yang sudah hampir punah (endangerous species) terkategori Apendix I CITES yang bearti sama sekali tidak dapat diperdagangkan, baik dalam keadaan hidup maupun mati serta dalam bentuk – bentuk lainya, dimasukkan kedalam kelompok biota yang dilindungi dari kepunahannya melalui ”Red Data Book IUCN”, demikian pula di Indonesia dugong dilindungi melalui Undang-Undang No. 5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999 dan berbagai aturan internasional.

Dugong (Duyung) pada umumnya hidup dan berasosiasi dengan ekosistem padang lamun, karena jenis lamun tertentu seperti Halophila, Thalassia, Cymodocea, Halodule, dan Syringonium merupakan makanan utamanya. Oleh sebab itu tidak heran jika Dugong (Duyung) sering dijumpaidiperairan Bintan yang kondisi ekosistem padang lamun yang masih subur. Di perairan Bintanterdapat lebih kurang 2.600 Ha ekosistem padang lamun. Untuk mencapai umur dewasa dan siapuntuk berkembang biak Dugong (Duyung) pada umur lebih kurang 15 tahun dengan periodekehamilan lebih kurang 13 – 15 bulan dan setiap melahirkan menghasilkan satu anak.

Marsh (2002) menyebutkan bahwa pada tahun 1970-an diperkirakan jumlah populasi Dugong (Duyung) di Indonesia adalah sekitar 10.000 ekor, sedangkan pada tahun 1994 diperkirakan sekitar 1.000 ekor. Namun ini tak bisa ditafsirkan sebagai bukti yang kongkrit berkurangnya populasi Dugong (Duyung), karena banyak didasarkan pada asumsi-asumsi dan informasi anecdotal.

Bagi masyarakat Bintan spesies ini sudah dikenal sejak lama, mengingat spesies ini berasosiasi dengan ekosistem padang lamun yang merupakan sumber makanannya. Ekosistem padang lamun yang juga merupakan ekosistem pesisir yang keberadaannya tidak jauh dari bibir pantai secara tidak  langsung, kemunculan Dugong (Duyung) sering dijumpai oleh masyarakat pesisir atau nelayan setempat, baik karena terdampar maupun terperangkap/mati oleh alat tangkap ikan.

Kebiasaan dari turun temurun, masyarakat Bintan menganggap bahwa Dugong (Duyung) masih menjadi sumber makanan sangat penting, terutama pada masyarakat Suku Laut Kepulauan Riau. Sebagai contoh Perkampungan suku laut yang terkenal di Bintan adalah Desa Berakit Kecamatan Gunung Kijang dan Desa Air Glubi Kecamatan Bintan Pesisir. Pada kedua daerah ini kebiasaan turun temurun sebagai sumber makanan, mereka sengaja mencari dan menangkap Dugong (Duyung). Berbagai cara yang biasa mereka gunakan untuk menagkap Dugong (Duyung) diantaranya dengan menggunakan Tombak khusus. Mereka sangat terlatih menggunakan tombak ini untuk menangkap Dugong (Duyung), berdasarkan informasi dilapangan bahwa mereka bisa menombak dengan tepat pada jarak 10 meter di atas air, demikian juga bahwa anak suku laut yang sejak berumur 12 tahun sudah terlatih menombak ikan di laut tidak terkecuali Dugong ini.

Jika kita berkunjung ke rumah-rumah suku laut ini, maka kita bisa menemukan alat tangkap (Tombak), fosil-fosil (tulang belulang) dari hasil tangkap Dugong (Duyung) yang mereka makan. Sebagian dari tulang belulang Dugong (Duyung) masih mereka manfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pipa rokok, cincin, hiasan dinding dan obat-obatan. Salah satu ciri terkenal pada Dugong (Duyung) ini adalah air matanya yang dikenal dengan sebutan air mata duyung. Air mata ini dipercaya secara mistis dapat digunakan sebagai obat pengasih (pelet).

Adanya Program Trismades dan COREMAP pase I dan II kemudian dilanjutkan dengan Program CTI, Pemerintah Kabupaten Bintan gencar melakukan sosialisasi untuk memberikan pemahamam, pembinaan dan penyadaran kepada masyarakat nelayan khususnya masyarakat suku laut di Bintan oleh pemerintah daerah, kebiasan yang dahulunya menombak Dugong (Duyung) sudah berubah menjadi nelayan dengan menggunakan alat tangkap jaring dan pancing yang merupakan bantuan dari pemerintah daerah. Usaha ini sangat berhasil ditandai dengan tidak ada aktifitas perburuan Dugong (Duyung) oleh suku laut secara massif dan sengaja. Adapun usaha pemerintah tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap suku laut karena sudah merubah pola kebiasan menangkap Dugong (Duyung) menjadi kebiasan menangkap ikan seperti nelayan umumnya.

Selain tangkapan secara sengaja, di Kabupaten Bintan, spesies Dugong (Duyung) ini masih sering dijumpai dalam kondisi hidup sebagai hasil tangkapan sampingan (By Catch) nelayan sedangkan pada musim tertentu (Musim Utara) juga terdapat kasus terdamparnya hewan ini di wilayah pesisir Kabupaten Bintan.

Sejak tercatatnya kemunculan Dugong (Duyung) di Kabupaten Bintan pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2015, baik yang tertangkap secara tidak sengaja oleh alat tangkap nelayan maupun yang terdampar tercatat lebih kurang 11 kali kejadian berdasarkan data dari Dinas Perikanan Kabupaten Bintan tahun 2015.

Dengan adanya peristiwa ini pemerintah kabupaten Bintan intens melakukan sosialisasi dengan melakukan pembinaan dan penyadaran kepada masyrakat yang akhirnya berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Bintan yang diantaranya : Perubahan Kebiasaan memakai alat tangkap perikanan yang tidak ramah terhadap spesies Dugong (Duyung), memberikan pemahaman dan edukasi tentang spesies Dugong (Duyung) dan keberadaannya serta tata kelola pemerintahan dan jejaring mulai dari tingkat desa/kelurahan hingga kabupaten. Hal ini dibuktikan oleh salah satu desa di Bintan yaitu Desa Teluk Bakau Kecamatan Gunung Kijang (Tahun 2009) dengan menginisiasi Desa nya sebagai Desa Konservasi Padang Lamun dan Habitat Dugong (Duyung) dengan membangun gapura dengan tulisan “ Selamat Datang di Lokasi Konservasi Padang Lamun”.

Kemudian pada Tahun 2010 Desa Pengudang Kecamatan Teluk Sebong mengadakan kegiatan penyadaran masyarakat melalui festival kuliner laut yang bagian dari acara tersebut banyak menampilkan poster-poster penyelamatan Dugong (Duyung) dan Habitatnya. Ditingkat Kabupaten Bintan pada tahun 2008 sudah dimulai kampanye penyelamatan Dugong (Duyung) dan habitatnya dengan ditandai dengan pembangunan papan informasi dan gapura pelestarian Dugong (Duyung) dan habitatnya, selanjutnya pemerintah Kabupaten Bintan banyak mencetak poster, brosur dan majalah sejalan dengan kegiatan/program TRISMADES. Pada tahun 2012 Kabupaten Bintan juga membangun Gapura selamat datang di Kabupaten Bintan pada perbatasan Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan dengan memasang siluet duplikat Dugong (Duyung) di atasnya.

Penyadaran dan edukasi terhadap pelestarian Dugong (Duyung) dan habitatnya juga dilakukan dengan melakukan studi banding pengelolaan kawasan konservasi bagi masyarakat ke Pulau Seribu, melakukan pelatihan-pelatihan sebagai alternatif mata mencaharian dan lainsebagainya. Pada tahun 2014 Pemerintah Kabupaten Bintan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan mengadakan sosialisasi pengenalan Padang Lamun dan Dugong kepada generasi muda tingkat sekolah dasar di Desa Berakit, sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman sejak dini kepada generasi penerus untuk melestarikan Dugong (Duyung) beserta habitatnya. Juga di tahun bersamaan Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan membangun patung Dugong di gedung Bintan Ekspo.

Pada tahun 2015 Pemerintah Kabupaten Bintan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan mengadakan sosialisasi Dugong dan Padang Lamun di Desa Berakit, Desa Malang Rapat, Desa Pengudang dan Desa Teluk Bakau, sosilisasi ini juga bertujuan memberikan edukasi pemahaman pentingnya menjaga kelestarian Dugong dan Habitatnya, selain itu juga sosialisasi ini bertujuan mengetahui titik kemunculan dugong di alam. Pada tahun yang sama Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan juga membangun monument Dugong di Pantai Trikora sebagai ikon pantai trikora.

Kesemua dari kegiatan ini bertujuan memberikan informasi pentingnya kita melestarikan Dugong agar tetap lestari di alam, semua hasil aktifitas penyadaran dan edukasi diatas sungguh dapat dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Bintan, hari ini bisa kita liat masyarakat Kabupaten Bintan sudah menggenal dugong dan melestarikannya.

Keseriusan pemerintah kabupaten bintan dalam perlindungan dan pelestarian spesies Dugong (Duyung) diwujudkan pada tata kelola pemerintahan dan jejaring mulai dari tingkat Desa/Kelurahan hingga Kabupaten seperti Pemerintahan Kabupaten Bintan menetapkan suatu surat Keputusan Bupati Bintan No. 267/VI/2010 tanggal 03 Juni 2010 tentang penetapan kawasan konservasi padang lamun Kabupaten Bintan dengan menetapkan wilayah perairan laut pesisir timur pulau Bintan yang membentang dari Desa Teluk Bakau sampai dengan Desa Pengudang sebagai kawasan konservasi padang lamun di Kabupaten Bintan, selanjutnya menunjukan kawasan inti padang lamun pada masing-masing Desa yang tercantum di dalam peraturan Desa, seperti peraturan Desa Teluk Bakau Nomor 01 tahun 2009 tanggal 21 Desember 2009, Peraturan Desa Malang Rapat Nomor 02 Tahun 2010 tanggal 04 Maret 2010, Peraturan Desa Berakit Nomor 01/ TRISMADES/DBR/2010 Tahun 2010 tanggal 09 Februari 2010 dan Peraturan Desa Pengudang Nomor 02 /PERDES/DPLTRISMADES/2010 Tahun 2010 tanggal 04 Mei 2010. Semua regulasi ini intinya menetapkan satwa dugong beserta habitat ekosistemnya perlu dijaga dan dilestarikan dari kepunahan.

Tidak berakhir dengan menerbitkan regulasi, pada saat itu Pemerintah Kabupaten Bintan melalui Dinas Kelautaan dan Perikanan membentuk 6 (enam) Kelompok masyarakat pengawas yang berasal dari nelayan setempat untuk menjaga kelestarian ekosistem yang dilindungi dan spesies terancam punah, hasilnya sangat mengembirakan. Dengan terbentuknya masyarakat pengawas ini banyak memberikan pengaruh perilaku sosial dari masyarakat dengan kata lain menjadi kegiatan yang lebih positif mengawasi sumberdaya yang ada termasuk menjaga kelestarian Dugong dan Habitatnya.

Pasca tiadanya program Trismades dan COREMAP pase I dan II kemudian dilanjutkan dengan Program CTI tersebut serta pemberlakukan UU Nomor 23 tentang Otonomi Daerah Tahun 2014 program perlindungan spesies langka terancam punah di kabupaten bintan terkesan mengalami kemunduran akibat dari tidak adanya kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam keterlibatan untuk menjaga kelestaraian spesies langka terancam punah tersebut secara langsung.

Kita berharap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi kepulauan riau dapat meneruskan program ini agar kelestarian spesies langka terancam punah terutama Dugong (Duyung) dapat terjaga keberadaannya di perairan kepulauan riau dan kabupaten bintan khususnya, agar anak cucu kita untuk masa yang akan datang masih dapat melihat langsung spesies Dugong (Duyung) ini sehingga tidak hanya menjadi sebuah dongeng belaka.

Leave a Comment

Your email address will not be published.