Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan dengan Kelestarian Lingkungan

Oleh Septian Anugrah
Mahasiswa Program Magister Ilmu Lingkungan UMRAH

Manusia dalam memenuhi kebutuhannya selalu berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya, dalam hal ini lingkungan hidup. Interaksi tersebut dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Namun, dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut, manusia sering lupa atas hak dan kewajiban. Manusia berhak untuk menggali potensi sumberdaya alam yang tersedia, dalam rangka melangsungkan berbagai fase kehidupan. Akan tetapi, hak tersebut tidak hanya berhenti pada batas hak atas sumberdaya alam tadi. Hak untuk menggali potensi sumberdaya alam diikuti dengan kewajiban untuk menjaga dan melestarikannya. Manusia sering lupa atas kewajibannya dan selalu mengedepankan haknya. Dengan begitu sumberdaya alam yang melimpah lama-kelamaan akan habis juga. Keseimbangan ekosistem akan rusak dan lingkungan tidak terjaga.

Tren penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya pesisir dan laut mengalami tekanan dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sumberdaya yang paling terdegradasi adalah terumbu karang dan hutan mangrove. Dari beberapa data terlihat penurunan penutupan karang hidup di beberapa lokasi kawasan timur Indonesia dan bahkan di beberapa kawasan konservasi (Kementerian Lingkungan Hidup RI 2010). Berdasarkan kenyataan yang ada, menunjukkan telah terjadinya kecenderungan adanya peningkatan kerusakan lingkungan wilayah pesisir dan laut di Indonesia. Berbagai hal yang menyebabkan keadaan tersebut antara lain disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah aktivitas manusia (KLH 2010). Fenomena meningkatnya tekanan penduduk pada lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan terbukti telah banyak menyebabkan terjadinya peningkatan kerusakan wilayah pesisir di Indonesia. Lingkungan pesisir dan lautan yang bersih dan tidak tercemar merupakan jaminan bagi potensinya sebagai sumber daya alam. Berbagai pihak harus terus memberikan dorongan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan pesisir.

Diketahui bahwa masyarakat nelayan di Indonesia berjumlah sekitar dua juta orang. Pada umumnya kelompok masyarakat ini hidup dalam kemiskinan dan kurang berpendidikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa terdapat sekitar 7.87 juta masyarakat pesisir miskin dan 2.2 juta jiwa penduduk pesisir sangat miskin di seluruh wilayah Indonesia. Nelayan miskin tersebut tersebar di 10.640 desa nelayan di pesisir. Sebagai wilayah yang homogen, wilayah pesisir merupakan wilayah sentra produksi ikan namun bisa juga dikatakan sebagai wilayah dengan tingkat pendapatan penduduknya tergolong di bawah garis kemiskinan. Rendahnya penghasilan nelayan tradisional merupakan masalah yang sudah lama, namun masalah ini masih belum dapat diselesaikan hingga sekarang karena terlalu kompleks. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan sosial ekonomi, namun terkait pula lingkungan dan teknologi. Nelayan Indonesia masih tergolong miskin dengan pendapatan per kapita per bulan sekitar US $7-10, belum lagi terjadi degradasi lingkungan yang memprihatinkan.

Penggunaan alat tangkap dan bahan terlarang memicu langkanya sumberdaya ikan yang ada sehingga merusak ekosistem laut. Kelangkaan ini selanjutnya mengakibatkan terancamnya mata pencaharian masyarakat nelayan. Sumber pendapatan masyarakat nelayan dapat terancam oleh karena rusaknya daya dukung ekosistem perairan terhadap keberadaan sumberdaya ikan, akibat pola penangkapan yang ilegal dan destruktif. Dengan demikian, sumberdaya ikan yang semakin langka karena rusaknya ekosistem laut menyebabkan pendapatan para nelayan kecil sehingga memberi imbas pada kemiskinan mereka. Di sisi lain, kemiskinan yang menimpa masyarakat nelayan menyebabkan perilaku eksploitatif dan tidak ramah lingkungan. Hal ini merupakan persoalan yang dilematis bagi kehidupan nelayan yaitu antara memanfaatkan sumberdaya laut dan pesisir yang cenderung merusak atau menjaga kelestariannya. Di samping itu, masuknya nelayan luar daerah menyebabkan semakin tersingkirnya nelayan setempat. Pendapatan hasil melaut nelayan lokal semakin menurun sehingga memicu penggunaan alat tangkap yang mampu menuai hasil tangkapan yang lebih banyak.

Perilaku destruktif sebagai penyebab kerusakan sumberdaya alam hayati di daerah pesisir dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan. Tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya sanitasi lingkungan permukiman yang sehat mempengaruhi aspek perilaku ramah lingkungan sehingga berpengaruh pada lingkungan tempat tinggal mereka. Di sisi lain, latar belakang pendidikan mempengaruhi pola mata pencaharian penduduk. Umumnya tingkat pendidikan yang rendah hanya menyediakan peluang bekerja di sektor informal seperti pedagang, buruh bangunan, buruh panggul dan serabutan, serta nelayan. Hal ini berdampak pada kemampuannya dalam memenuhi dan mengakses sarana dan prasarana yang tersedia. Rendahnya kemampuan ekonomi menjadi pendorong kebiasaan masyarakat berperilaku tidak ramah lingkungan. Masyarakat dengan taraf ekonomi rendah tidak memiliki kemampuan lebih untuk menyediakan prasarana sanitasi di rumah masing-masing, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun sulit. Sanitasi lingkungan erat kaitannya dengan kondisi permukiman. Sanitasi lingkungan didefinisikan sebagai usaha-usaha pengendalian dari semua faktor-faktor lingkungan fisik manusia yang menimbulkan atau dapat menimbulkan hal yang merugikan bagi perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia.

Kemiskinan menjadi salah satu pemicu terjadinya tekanan terhadap lingkungan yang luar biasa yang pada akhirnya degradasi lingkungan dan kerusakan lingkungan sulit dihindarkan ketika penduduk masih dililit kemiskinan. Intensitas pemanfaatan sumberdaya semakin tinggi karena hanya inilah sebagai satu-satunya tempat bergantung bagi kelangsungan hidup dalam kondisi miskin.

Kemiskinan adalah suatu konsep yang cair, serba tidak pasti dan bersifat multi dimensional. Kemiskinan disebut cair karena bisa bermakna subjektif, tetapi sekaligus juga bermakna objektif. Secara objektif bisa saja masyarakat tidak dapat dikatakan miskin karena pendapatannya sudah berada di atas batas garis kemiskinan yang diukur misalnya dengan standar kebutuhan beras dan gizi. Namun, apa yang tampak secara objektif tidak miskin bisa saja dirasakan sebagai kemiskinan karena adanya perasaan tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi atau bahkan dengan membandingkan dengan kondisi orang lain. Lebih lanjut, berdasarkan ukurannya, kemiskinan dibagi menjadi dua macam yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut merupakan kemiskinan yang dilihat dari ukuran garis kemiskinan (poverty line). Salah satu bentuk ukuran garis kemiskinan dikeluarkan oleh Bank Dunia berdasarkan ukuran pendapatan. Orang yang memiliki pendapatan kurang dari 2 dolar AS per hari digolongkan miskin. Sementara itu, kemiskinan relatif merupakan kemiskinan yang diukur dengan membandingkan satu kelompok pendapatan dengan kelompok pendapatan yang lain. Pada kasus nelayan, sampai saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah nelayan miskin dari total dua juta nelayan. Data yang tersedia hanyalah tingkat kemiskinan masyarakat pesisir sebanyak 32 persen tahun 2002 dengan indikator pendapatan satu dolar AS per hari.

Masyarakat nelayan merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai kelompok miskin dengan persentase lebih besar, dengan hampir di sepanjang pantai Indonesia hidup keluargakeluarga nelayan yang hidup dalam kondisi kemiskinan. Penyebab kemiskinan nelayan di Indonesia sangatlah kompleks, mulai penyebab individual, keluarga, sub budaya, agensi bahkan struktural saling berkaitan.

Kondisi serba kekurangan seringkali menjadikan permukiman nelayan di daerah pesisir umumnya kumuh, seadanya, tidak memenuhi syarat kesehatan, dan sering dilanda wabah penyakit. Letak dan kondisi geografis permukiman nelayan umumnya jauh di pinggir pantai, sarana jalan kendaraan sangat sulit, lingkungan permukiman udaranya tidak segar, bau amis, sampai dengan bau ikan asin bercampur dengan rumah-rumah yang tidak bersih. Permasalahan mengenai lingkungan ini diduga memiliki keterkaitan dengan fenomena kemiskinan yang terjadi di daerah pesisir, sehingga keterdesakan secara ekonomi mengakibatkan eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya alam tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya

Leave a Comment

Your email address will not be published.