Kawasan Labuh Jangkar: Oil Spill dan Spesies Asing Invasif

Oleh Septian Anugrah, S.Si

Magister Ilmu Lingkungan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Meningkatnya globalisasi ekonomi dunia dalam beberapa dekade terakhir telah mendorong masyarakat dunia menuju kearah perdagangan internasional yang lebih kompetitif. Perkembangan yang telah berlangsung saat ini telah membawa beberapa peluang yang menguntungkan bagi masyarakat dunia. Peluang keuntungan dan resiko kerugian dari berbagai kondisi memiliki keadaan yang seimbang. Perdagangan internasional yang sudah berlangsung lama, saat ini menimbulkan kekhawatiran pada lingkungan sekitar.

Peraiaran Kepulauan Riau yang juga merupakan bagian dari Selat Malaka merupakan kawasan yang sibuk dengan aktivitas transportasi laut. Kawasan labuh jangkar di singapura dan johor sudah sangat terbatas. Melihat peluang ini Pemprov Kepulauan Riau mulai melirik peluang ini dengan mulai menetapkan zonasi dan retribusi untuk kawasan labuh jangkar. Pemprov Kepri memperkirakan dapat meraup pendapatan asli daerah (PAD) sekitar 700 juta per hari dari jasa labuh jangkar ini atau sekitar 200 milyar per tahun. Potensi ekonomi ini tentu sangat realistis mengingat kondisi Selat Malaka yang 80% wilayahnya dimiliki Indonesia. Selain peluang ekonomi yang tinggi, kegiatan labuh jangkar juga tidak bisa terlepas dari permasalahan. Kapal-kapal angkutan yang melintasi Selat Malaka dan hendak memasuki wilayah Singapura sebagai pelabuhan transit untuk komiditas ekspor internasional, peraturan di Singapura mengharuskan untuk membersihkan fisik kapal (vasel & tank cleaning) dan hanya boleh memasuki kawasan Singapura dalam kondisi bersih. Peraturan ini menyebabkan banyak kapal yang dalam perlayaranya menuju pelabuhan Singapura melakukan pencucian kapal dan tanker di laut. Mereka juga membuang air sisa pendinginan mesin dan juga air cucian kapal ke laut, istilah ini disebut dengan ballast water atau air ballast. Air ballast yang di buang oleh kapal-kapal ini mengandung minyak serta oli kapal yang tergolong kedalam limbah. Kegiatan ini dilakukan agar terhindar dari sanksi pemerintah Singapura. Ballats merupakan pemberat yang sangat dibutuhkan oleh kapal untuk menjaga sarat air guna untuk kestabilan kapal pada saat kapal telah terisi oleh muatan atau kosong muatan.

Pulau Bintan yang berlokasi di sekitaran Selat Malaka, setidaknya dalam sedasawarsa terakhir, menjadi kuwalahan tidak berdaya mendapat kiriman limbah minyak yang diduga berasal dari kapal-kapal tanker berukuran raksasa di Selat Malaka. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau melaporkan populasi dugong yang hidup di Kepulauan Riau jumlahnya semakin berkurang. Satu di antara penyebabnya adalah pencemaran laut yang terjadi di Selat Malaka. Akibatnya salah satu satwa dilindungi seperti dugong berenang ke luar habitat, tersasar dan terdampar di pantai.

Selain limbah minyak, hal yang tidak kalah menakutkan adalah kehadiran spesies asing invasif. Umumnya perjalanan kapal akan mengakibatkan transfer besar-besaran organisme air tawar dan laut melalui air ballast. Beberapa kasus menunjukan bahwa organisme yang bertahan dalam air ballast, berhasil membentuk satu populasi dan mendominasi lingkungan sehingga mengakibatkan dampak ekologi yang parah. Organisme itu dikenal sebagai spesies asing invasif (SAI). SAI merupakan tumbuhan, hewan, ikan, mikroorganisme dan organisme lain yang bukan bagian dari suatu ekosistem yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem, lingkungan, kerugian ekonomi dan kesehatan manusia. SAI akan berperan sebagai organisme kompetitor, predator, patogen, dan parasit yang mampu merambah semua ekosistem asli dan menyebabkan punahnya spesies asli.

Melihat fenomena diatas dan dikaitan dengan Sustainable Development Goals no 14 tentang “Life Below Water‟ dan upaya di dalamnya dalam meningkatkan dan mempertahankan kualitas daya dukung dan kelestarian fungsi lingkungan laut, dan meningkatkan harkat hidup nelayan dan masyarakat pesisir. Dapat disimpulkan bahwa tumpahan limbah minyak dan penyebaran spesies asing invasif akan merusak ekosistem laut terutama di wilayah pesisir seperti ekosistem terumbu karang, lamun, dan hutan mangrove. Ekosistem tersebut merupakan tempat memijah dan tempat mencari makan bagi organisme laut. Kerusakan pada ekosistem tersebut akan mengakibatkan kematian organisme laut seperti terumbu karang, ikan karang, alga dan lamun serta akan memutus rantai makanan di laut. Selanjutnya akan menurunkan produkstivitas primer di perairan dan pada akhirnya akan menghilangkan mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan hidupnya di perairan laut.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang terus meningkat mengakibatkan semakin padatnya lalu lintas kapal yang mengangkut berbagai komoditas melewati Selat Malaka harusnya juga diimbangi dengan peningkatan peningkatan taraf  hidup nelayan tempatan. Kegiatan operasional kapal yang dilakukan secara legal maupun illegal dikawasan labuh jangkar harusnya mendapatkan perhatian dari pemerintah. Penetapan zona labuh jangkar harus diimbangi dengan peningkatan pengawasan dan fasillitas-fasilitas penunjang sehingga kemungkinan potensi kerusakan ekosistem dapat dicegah. Riset tentang pendataan jenis organisme yang ada di kawasan labuh jangkar perlu di dorong  sehingga dapat melihat dari keadaan sebelum dan sesudah dari adanya aktifitas labuh jangkar ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published.