Sekolah Adiwiyata Berorientasi Maritim untuk Sekolah di Daerah Kepulauan

Rita Puspitasari, S.Pd
Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Umrah
Guru SMA Negeri 1 Teluk Bintan

Program Adiwiyata merupakan program yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam pelestarian lingkungan.

Adiwiyata memiliki arti sebagai tempat yang baik dan ideal di mana dapat diperoleh segala pengetahuan dan berbagai norma dan etika yang dapat menjadi landasan manusia menuju terciptanya kesejahteraan dan menuju cita-cita pembangunan yang berkelanjutan.

Program tersebut bertujuan untuk mendorong dan membimbing sekolah-sekolah di Indonesia untuk berperan aktif dalam melaksanakan pelestarian dan pembangunan lingkungan sehingga di masa yang akan datang seluruh warga sekolah dapat ikut bertanggung jawab dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Data terakhir yang dipublikasikan Kementerian Lingkungan Hidup RI melalui situsnya menyebutkan partisipasi sekolah mengalami penurunan akibat pandemi COVID-19. Beberapa daerah mengaku belum siap mengirimkan sekolah untuk mengikuti Program Adiwiyata.

Masuk kategori sekolah Adiwiyata tidaklah mudah. Banyak penilaian yang harus dilalui. Evaluasi calon Sekolah Adiwiyata dilakukan melalui tinjauan administratif dan memenuhi kriteria sekolah Adiwiyata.

Penilaian ini dilakukan secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Setelah administrasi dianggap lengkap, dilakukan evaluasi pemenuhan kriteria Sekolah Adiwiyata melalui penilaian dokumen dan verifikasi lapangan dengan persyaratan.

Berdasarkan pedoman program Adiwiyata, setidaknya ada 31 poin penilaian untuk program Adiwiyata, yang semuanya penting dalam menentukan apakah sekolah dapat menjadi sekolah Adiwiyata atau tidak.

Pelaksanaan program Adiwiyata yang telah dilakukan belum menjamin terbentuknya perilaku peduli terhadap warga sekolah. Salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa salah satu poin problematis untuk dipenuhi dan menjadi penyebab gagalnya meraih gelar Adiwiyata adalah kurangnya pemahaman tentang upaya pengelolaan lingkungan dan perilaku ramah lingkungan bagi warga sekolah.

Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam melestarikan lingkungan sekolah.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam melestarikan lingkungan warga sekolah adalah dengan mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup dalam kurikulum dan mengimplementasikannya baik melalui mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, maupun pembiasaan.

Implementasi kurikulum pendidikan lingkungan merupakan salah satu poin penilaian dalam program Adiwiyata. Dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Lingkungan, guru harus menguasai kompetensi dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran lingkungan, menyusun materi terkait isu lokal dan global, mengembangkan indikator dan instrumen penilaian, serta menerapkan metode pembelajaran.

Pengembangan metode pembelajaran pendidikan lingkungan hidup harus dilakukan secara aktif, misalnya dengan menggunakan banyak model pembelajaran, seperti metode PBL, PjBl, demonstrasi, simulasi, diskusi kelompok, brainstorming. Dan yang paling penting adalah pengalaman lapangan.

Guru harus mengaitkan pengetahuan konseptual dan prosedural dalam memecahkan masalah lingkungan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dibutuhkan keseriusan, dan sekolah harus mendukung keberhasilan implementasi kurikulum pendidikan lingkungan, anggaran kegiatan siswa berbasis lingkungan, kegiatan pembelajaran, peningkatan dan profesionalisme guru berbasis lingkungan, sarana dan prasarana ramah lingkungan.

Data terakhir mayoritas sekolah menengah atas di kabupaten Bintan berpredikat Adiwiyata. Namun, apakah keberhasilan tersebut tercermin dalam perilaku siswa maupun guru ketika berada diluar sekolah?.

Kondisi geografis Bintan yang merupakan wilayah pesisir hendaknya dapat disejalankan dengan program ini. Kelemahan saat ini adalah kurangnya cara pandang sekolah dalam melihat laut sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari.

Masalah yang belum terselesaikan saat ini terkait pendidikan kelautan adalah pendidikan saat ini masih terbatas dan fokus kurikulum yang ada cenderung berorientasi pada daratan sehingga siswa kurang tertarik dengan ilmu kelautan.

Materi kelautan merupakan bagian dari Kurikulum Kelautan Nasional yang juga harus disusun oleh Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek kedepan dan diintegrasikan dalam program Adiwiyata untuk sekolah yang berdada di wilayah pesisir.

Pemerintah daerah dan pihak sekolah juga hendaknya proporsi pendidikan lingkungan laut dalam muatan lokal harus diajarkan. Selain mengembangkan program kurikulum untuk menjadi sekolah Adiwiyata, sekolah juga harus berupaya meningkatkan kompetensi guru yang berkerakter maritim.

Dukungan kepala sekolah terhadap setiap kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dilakukan oleh siswa, guru dan staf, orang tua, dan masyarakat dalam rangka pengelolaan infrastruktur ramah lingkungan.

Sekolah perlu memaksimalkan kegiatan ekstrakurikuler berbasis lingkungan melalui kegiatan pramuka, palang merah remaja, atau klub cinta laut untuk menciptakan warga sekolah yang berbudaya lingkungan.

Selain itu, diperlukan upaya untuk membangun kemitraan dengan berbagai pihak yang lebih luas untuk mensukseskan program Adiwiyata berbasis kelautan.

Artikel ini pernah dipublish di https://suarasiber.com/2022/01/sekolah-adiwiyata-berorientasi-maritim-untuk-sekolah-di-daerah-kepulauan/

Leave a Comment

Your email address will not be published.